Tradisi Septuagesima
- webkatolikangelusd
- May 26, 2021
- 1 min read

Dom Prosper Guéranger, O.S.B., abbot dari Solesmes, mendevosikan seluruh karyanya – The Liturgical Year untuk Septuagesima. Ia menyebut Septuagesima sebagai masa “transisi, antara Natal dan Prapaskah.”
Dom Guéranger menulis: “Oleh sebab itu, Gereja telah mempersiapkan diri untuk masa kudus Prapaskah, dengan memberi kita tiga minggu Septuagesima, yang sedapat mungkin, akan menarik kita dari godaan dunia, agar hati kita lebih terpusat pada peringatan khusyuk di awal masa Prapaskah, dengan menandai dahi kita dengan abu.”
Minggu Septuagesima adalah minggu kesembilan sebelum Prapaskah, dan merupakan hari yang mengawali masa Septuagesima, yang terdiri dari tiga Minggu:
Septuagesima (yang berarti ke-70),
Sexagesima (yang berarti ke-60),
Quinquagesima (yang berarti ke-50),
Dan kemudian berlanjut sampai Rabu Abu.
Sebagaimana Dom Guéranger menjelaskan, misteri “duka cita sengsara kudus”, Septuagesima ini terus berlangsung sepanjang periode waktu hingga pesta meriah Paskah.
Bagaimana kita menjaga Septuagesima?
Dengan memasuki suasana Gereja dan mempersiapkan diri dengan penuh kesadaran serta penyesalan atas dosa selama masa Prapaskah.
Dengan menumbuhkan rasa takut pada Tuhan yang kudus.
Dengan mempertimbangkan apa yang telah diakibatkan oleh dosa asal dan dosa kita sendiri sehingga kita pantas mendapatkan penghakiman Tuhan.
Dengan bangkit dari ketidakpedulian.
Dengan menyadari kebutuhan kita akan penebusan Kristus yang menyelamatkan kita, yang kita kenang dengan sangat rinci, selama masa Prapaskah.
Sumber:
•Pax Vobis•
Facebook: Katolik Angelus Domini | Instagram: @katolikangelusdomini



Comments