top of page
Search

TRADISI GEREJA KATOLIK MENGENAI MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Updated: Mar 15, 2021



Bukti-bukti dari tradisi Gereja Katolik yang berkenaan dengan mendoakan orang yang sudah meninggal ditemukan dalam:


  • Tulisan-tulisan yang ditemukan terutama pada katakombe/ makam bawah tanah

Ujud-ujud yang biasanya didoakan, ditemukan dalam tulisan-tulisan pada katakombe antara lain: damai, kebaikan (keselamatan kekal), cahaya, istirahat, kehidupan, kehidupan kekal, persatuan dengan Allah, dengan Kristus, dan dengan para malaikat dan para kudus, contohnya: PAX (TIBI, VOBIS, SPIRITUI TUO, IN ÆTERNUM, TIBI CUM ANGELIS, CUM SANCTIS); SPIRITUS TUUS IN BONO (SIT, VIVAT, QUIESCAT); ÆTERNA LUX TIBI; IN REFREGERIO ESTO; SPIRITUM IN REFRIGERIUM SUSCIPIAT DOMINUS; DEUS TIBI REFRIGERET; VIVAS, VIVATIS (IN DEO, IN [Chi-Rho] IN SPIRITO SANCTO, IN PACE, IN ÆTERNO, INTER SANCTOS, CUM MARTYRIBUS).

Salah satu tulisan yang ditemukan pada Katakombe Domitilia, meminta para peziarah untuk mendoakan mereka yang telah meninggal:

"Ut quisquis de fratribus legerity, roget Deum ut sancto et innocent spiritu ad Deum suscipiatur." ("Apabila di antara saudara yang membaca ini, biarlah ia meminta agar jiwa yang suci dan tidak bersalah ini dapat diterima oleh Allah.”)


  • Dalam doa-doa liturgi kuno


Misa pada hari ke-3, ke-7, ke-30, dan Peringatan Tahunan

Selain doa yang didaraskan tepat setelah kematian, dan doa-doa pada Misa Requiem, praktik Katolik juga mengadakan Misa Kudus bagi mereka yang telah meninggal pada hari ke-3, ke-7, dan ke-30 setelah kematian atau penguburan (1 hari setelah kematian atau penguburan dihitung sebagai hari pertama). Misa Kudus juga dirayakan pada hari peringatan meninggalnya seseorang (dirayakan pada tanggal yang sama dengan tanggal meninggalnya seseorang pada tahun-tahun berikutnya). Selain itu, pada tanggal-tangggal tersebut, kita juga harus menolong jiwa-jiwa yang telah meninggal dengan mendoakan “Office of the Dead” serta Rosario bagi mereka yang telah meninggal.


Hari ke-3: Sebagai peringatan dari tiga hari lamanya Tuhan kita berada di dalam makam. Terdapat tulisan khusus dalam Konstitusi Apostolik mengenai hal ini: “With respect to the dead, let the third day be celebrated in psalms, lessons, and prayers, because of Him Who on the third day rose again.”


Hari ke-7: Menurut St. Ambrosia yang merupakan saksi dari praktik kuno ini, “Sekarang, karena hari ketujuh melambangkan istirahat kekal, kita mengunjungi makam.”



Tiga Puluh Misa Gregorian

Merupakan serial Misa yang dipersembahkan selama tiga puluh hari berturut-turut bagi seseorang yang diduga berada di Api Penyucian. Misa ini hanya dapat diadakan di biara-biara khusus (awalnya hanya di Biara Benediktin St. Andrew’s di Roma), di mana altar dalam biara tersebut dianggap sebagai “altar istimewa” – yang memberikan indulgensi penuh bagi jiwa, yang baginya Misa dipersembahkan.


Misa ini tidak biasa dilaksanakan. Imam manapun dapat mempersembahkannya, namun tidak semua imam memiliki waktu untuk itu, atau bahkan mengetahui tentang praktik ini.




Sumber:


Dirangkum dan diterjemahkan oleh Katolik Angelus Domini

•Pax Vobis•







 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

Silakan disebarluaskan dengan mencantumkan sumber: Diterjemahkan oleh Katolik Angelus Domini.

©2021 by Katolik Angelus Domini. Proudly created with Wix.com

bottom of page