top of page
Search

Keluarga Katolik yang Ideal (Bagian 2: Ibu)


Sebagaimana seorang ayah adalah kepala, seorang ibu adalah hati dari sebuah keluarga. Kedudukannya sama pentingnya dengan seorang ayah. Bahkan, banyak anak-anak ketika dewasa mengakui bahwa ibu berperan jauh lebih besar dalam pembentukan karakter mereka dibandingkan ayah. Begitu penting peran keduanya, sehingga bila salah satu kurang berperan karena alasan apapun, pendidikan anak-anak mereka menjadi cacat serius dan bisa menjadi fatal.


Tentang seorang ayah, Bapa Paus Pius mengatakan, “Peneguh iman dan laki-laki yang baik”. Sedangkan mengenai seorang ibu, dia mengatakan, “Penuh kemurnian, kesetiaan, dan cinta”. Pada kesempatan lain, dia pun mengatakan, “Sebagaimana seorang ayah adalah pemimpin dalam segala kewewenangan dan seorang ibu adalah pemimpin dalam hal kasih”.


Tetapi perlu dicatat, Yang Mulia (Bapa Paus) mengacu kepada kasih adikodrati, bukan hanya dari kasih ibu yang lembut dan datang dari hati kecil, yang mendasari terbentuknya kasih itu sendiri. Kasih adikodrati adalah kasih yang sangat luar biasa dan akan menyiratkan kehangatan yang tak terkatakan. Terkadang kasih itu akan menjadi rintangan bila ibu lalai dan tidak mampu membuat anak-anak patuh, tidak menjauhkan mereka dari hal-hal yang merugikan, tidak menghukum bila diperlukan, atau di saat anak-anak dengan keegoisannya menyalahgunakan kasih itu dan menghalangi kasih seorang ayah.


Kasih adikodrati adalah awal dari seluruh ketajaman hati nurani anak-anak. Kehalusan dan kelembutan kasih ini menjadi daya tarik yang sangat kuat. Dari sanalah lahir ketaatan, kesantunan, kemurnian, takut akan Tuhan, yang semua itu diperoleh dari seorang ibu.


Teladan seorang ibu, pada umumnya, dinilai dari kerelaannya meluangkan seluruh waktu sepanjang hari berada di rumah bersama anak-anaknya. Namun, ada misteri yang jauh lebih dalam untuk keseluruhan proses pendidikan kebajikan ini dibandingkan sekedar kebersamaan. Seorang ibu secara alamiah lebih terikat lekat pada anak-anaknya. Sebagaimana seorang anak ketika masih bayi tidak mampu makan selain dari ibunya, demikian pula pada masa-masa pertumbuhannya, alam telah menentukan bahwa ibulah yang harus mengajarkan kebajikan. Bahkan di saat dewasa dan lanjut usia, penghargaan terhadap ibu semakin kuat. Di dunia ini, tidak ada naluri yang lebih tajam daripada kasih anak-anak yang sudah dewasa terhadap ibu yang melahirkannya, mengasuhnya, dan mengajarkan kebajikan kepadanya.


Setiap orang memiliki anugerah adikodrati untuk meraih keberhasilan pada waktunya. Ia harus dituntun “akan menjadi apa dan harus melakukan apa di sini, agar kelak memperoleh yang indah dari tujuan penciptaannya”. Pendidikan ini adalah hasil dari usaha bersama kedua orangtua. Tetapi semasa kanak-kanak, hampir bisa dipastikan bahwa seorang anak, secara khusus, berada dalam bimbingan ibunya, yang harus dijalani oleh seorang ibu, jauh di dalam lubuk hatinya, karena hanya bersama rencana Ilahi ia berharap dapat mencapai apa yang telah ditanamkan alam kepadanya mengenai apa yang ingin dicapainya, yaitu pertumbuhan mental, moral fisik, dan sosial anak-anaknya. Upaya ibu ini akan membawa dampak yang hanya akan diperhitungkan (memperoleh ganjarannya) di dalam kekekalan.


Sebagai seorang pendidik dan pembimbing bagi anak-anak yang dipercayakan Allah kepadanya, tugas seorang ibu sangat berat dan untuk dapat melaksanakannya, seorang ibu harus mempunyai sifat luhur dalam dirinya. Beban ini akan menjadi ringan jika pikiran dan kemauan anak mudah dibentuk. Namun untuk mewujudkannya, ibu membutuhkan semangat, upaya-upaya yang menyakitkan, kesabaran dalam kelelahan, dan kerendahan hati dengan sukacita membuat dirinya sejajar dengan anak-anak. Ini adalah kerja keras walaupun seringkali putus asa. Dengan usaha yang sungguh-sungguh dan pengertian bahwa ini dilakukan hanya untuk Allah, semua akan dijalani dengan baik. “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Surga”. (Matius 19:14).


Sumber:


•Pax Vobis•


Facebook: Katolik Angelus Domini | Instagram: @katolikangelusdomini



 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

Silakan disebarluaskan dengan mencantumkan sumber: Diterjemahkan oleh Katolik Angelus Domini.

©2021 by Katolik Angelus Domini. Proudly created with Wix.com

bottom of page