Keluarga Katolik yang Ideal (Bagian 1: Ayah)
- webkatolikangelusd
- Jun 1, 2021
- 2 min read

Sejak awal mula, martabat seorang ayah terletak pada kenyataan bahwa Tuhan yang Mahakuasa telah menganugerahkan kepadanya hak istimewa untuk bekerja sama dalam misteri alamiah terbesar yaitu penciptaan kehidupan manusia. Anak-anak adalah miliknya dalam arti tidak ada hal lainnya, yang ia miliki, yang dapat disebut kepunyaanya. Martabat itu menjadi suatu kehormatan khusus, bahkan masyarakat modern yang berusaha untuk melupakan makna kesucian sebuah perkawinan pun tidak dapat memungkiri penghargaan yang hakiki ini.
Paus Pius XI setuju dengan pemikiran Santo Thomas Aquinas yang dengan tegas dan kritis mengatakan, “Seorang ayah secara jasmani, dalam cara yang khusus, mempunyai sifat alami yang dapat ditemukan dalam Tuhan, bahwa seorang ayah adalah pemberi utama keturunan, pendidikan, dan kedisiplinan, dan segala hal yang dapat menyempurnakan kehidupan manusia.” Ini bukanlah sebuah puisi, tetapi suatu kenyataan yang diungkapkan dengan sangat tegas oleh Doktor, yang suci dan dihormati oleh Vikaris Kristus ini, demi menertibkan kesimpangsiuran di dalam pendidikan modern.
Ayah harus sering merenungkan hal ini, jangan sampai ia kehilangan semangat yang telah Tuhan tetapkan dalam kebijaksanaan-Nya demi perkembangan moral kaum muda.
Menjadi seorang ayah adalah panggilan untuk melayani Tuhan, yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan dengan ketekadan yang sungguh dari seorang laki-laki hebat. Karena ayah diciptakan untuk melayani Tuhan, maka Dia menawarkan pertolongan sepanjang jalan hidup di setiap kesulitannya. Dengan menjadi seorang ayah, Tuhan mengharapkan kerja sama dalam rahmat ini, yang membutuhkan niat baik yang gigih, semangat pengorbanan, ketaatan yang sungguh-sungguh terhadap hukum Allah yang diperintahkan melalui Gereja. Mempunyai pandangan alami dalam segala hal memberikannya anugerah tinggi dalam cara berpikir yang logis.
Paus Pius XI meminta untuk memperhatikan kewajiban para ayah seperti berikut ini. Paus Leo XIII mengingatkan para ayah bahwa mereka adalah “kepala keluarga”, yang lebih merupakan sebuah tugas daripada kehormatan, dan ketika berbicara tentang ikatan perkawinan, ia menyebut bahwa ayah adalah sebagai penguasa keluarga dan pemimpin bagi istrinya.”
Mengomentari ‘Kondisi Kerja’, Paus Leo mengatakan “Sifat sebagai penyatu keluarga dalam rumah tangga harus dimiliki seorang laki-laki,” dan menegaskan bahwa “karakter baik yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang, harus juga dimiliki oleh seorang kepala keluarga.” Dia melanjutkan dengan pemikiran logis, “Hukum alam yang paling mulia adalah bahwa seorang ayah harus menyediakan makanan dan semua kebutuhan bagi anak-anaknya, serta segala sesuatu yang diperlukan agar mereka tidak kekurangan apa pun ataupun bahkan sengsara karena ketidakpastian hidup di dunia ini.”
“Kekuasaan seorang ayah sudah menjadi sebuah anugerah, sehingga tidak bisa dimusnahkan atau dihilangkan oleh Penguasa mana pun, karena anugerah itu sudah ada sejak dari kehidupan manusia itu sendiri.” Keinginan seorang ayah yang mengarahkan anak pada pendidikan Gereja, pasti akan mendapatkan hak perlindungan bagi keluarganya. Ayah adalah penuntun bagi putranya dalam menjalani kehidupan. Dalam perencanaan pendidikan rumah tangga seutuhnya, ayah diperingatkan untuk berhati-hati agar dapat menggunakan kekuasaannya dengan benar. Paus mengatakan bahwa biasanya panggilan imamat adalah hasil dari teladan dan didikan seorang ayah yang “kuat dalam iman dan berani dalam membuat kebajikan.”
Sumber:
•Pax Vobis•
Facebook: Katolik Angelus Domini | Instagram: @katolikangelusdomini



Comments