Ajaran Gereja Katolik dan Bapa Gereja Mengenai Mendoakan Orang yang Sudah Meninggal (Bagian 2)
- webkatolikangelusd
- Feb 26, 2021
- 2 min read
Updated: Mar 15, 2021

Dokumen-dokumen Gereja juga menyatakan hal-hal berikut:
Dalam Council of Trent (Sess. XXV) dinyatakan, "that purgatory exists, and that the souls detained therein are helped by the suffrages of the faithful, but especially by the acceptable sacrifice of the altar"
Menunjukkan bahwa Api Penyucian itu nyata dan bahwa jiwa-jiwa yang berada di sana terbantu oleh silih dari umat beriman yang masih berada di dunia, terutama melalui persembahan Kurban Misa Kudus yang layak.
Dalam pernyataan yang dibuat oleh Paus Innosensius III untuk kaum Waldenses yang bertobat pada tahun 1210 (Denzinger, Enchiridion, n. 3 73) dan juga lebih jelas dinyatakan dalam pengakuan iman yang diterima bagi bangsa Yunani oleh Michael Palaeologus dalam Second Ecumenical Council of Florence pada tahun 1439: "[We define] likewise, that if the truly penitent die in the love of God, before they have made satisfaction by worthy fruits of penance for their sins of commission and omission, their souls are purified by purgatorial pains after death; and that for relief from these pains they are benefitted by the suffrages of the faithful in this life, that is, by Masses, prayers, and almsgiving, and by the other offices of piety usually performed by the faithful for one another according to the practice [instituta] of the Church" (ibid., n. 588).
Menunjukkan bahwa bila seseorang yang telah benar-benar bertobat namun meninggal sebelum mereka melakukan penebusan atas dosa-dosa mereka, jiwa mereka akan dimurnikan oleh Api Penyucian setelah kematian. Dan untuk membebaskan mereka dari rasa sakit ini, persembahan silih dari umat beriman yang masih hidup dapat membantu mereka, yaitu melalui Misa Kudus, doa, dan perbuatan amal kasih, serta dengan tugas kesalehan lainnya yang dilakukan sesuai dengan praktik Gereja.
KGK No. 958
Persekutuan dengan yang telah meninggal. "Gereja kaum musafir menyadari sepenuhnya persekutuan dalam seluruh Tubuh Mistik Kristus itu. Sejak masa pertama agama kristiani, Gereja dengan sangat khidmat merayakan kenangan mereka yang telah meninggal. Dan 'karena inilah suatu pikiran yang mursyid dan saleh: mendoakan mereka yang meninggal supaya dilepaskan dari dosa-dosa mereka' (2 Mak 12:45), maka Gereja juga mempersembahkan kurban-kurban silih bagi mereka" (LG50). Doa kita untuk orang-orang yang sudah meninggal tidak hanya membantu mereka sendiri: Kalau mereka sudah dibantu, doa mereka pun akan berdaya guna bagi kita.
KGK NO. 1032
Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: "Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa- dosanya" (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi (Bdk. DS 856.) untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
"Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Bdk. Ayb 1:5.), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang- orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka" (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).
KGK NO. 1479
Oleh karena umat beriman yang telah meninggal yang masih berada pada jalan penyucian adalah juga anggota-anggota persekutuan para kudus ini, maka kita antara lain dapat membantu mereka dengan memperoleh indulgensi bagi mereka. Dengan demikian dihapuskan siksa dosa sementara para orang mati di dalam purgatorium [api penyucian].
Sumber:
Katekismus Gereja Katolik
Dirangkum dan diterjemahkan oleh Katolik Angelus Domini
∙Pax Vobis∙



Comments