Ash Wednesday
- webkatolikangelusd
- Jun 2, 2021
- 2 min read
Rabu abu adalah hari di mana kita diingatkan untuk merenungkan kembali sebagaimana dinyatakan dalam Pengkotbah 1:3-4 :
“Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.”
Salah satu pengertian tentang makna abu adalah untuk mengingatkan bahwa kita bukanlah makhluk hidup yang abadi, bahwa tubuh kita bisa membusuk dan hancur. Saat ini, budaya barat sudah mencoba untuk menekankan pemahaman, yang merupakan sebuah rahmat, bahwa hidup kita sangat bergantung hanya kepada Yesus Kristus.
Abu mengingatkan kita akan liang kubur, seperti pada tulisan:
“Ingatlah kawan, jalani hidup kalian, sama seperti aku dahulu dan kalian pasti akan seperti aku sekarang. Persiapkan kematian kalian dan ikutlah aku”
Walaupun kematian bisa dihindari seperti halnya kejahatan, namun kita harus menerima kenyataan bahwa kematian seharusnya tidak perlu ditakuti, tetapi diterima tanpa rasa takut atas penghakiman yang akan diterima – Allah bukan Bapa yang kejam yang hendak menyiksa, tetapi karena Dia teramat Rahim. Kita harus bertobat, menerima kenyataan akan kematian, jangan hanya memikirkan hari penghakiman, namun juga siap bila saatnya tiba.
Pemberkatan dan Penerimaan Abu
Abu adalah hasil pembakaran daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya – Palma yang diayunkan dengan kemenangan dan pujian. Abu dari daun palma yang sudah dibakar menunjukkan adanya hubungan antara kemenangan, penebusan dosa, dan kematian yang selalu dilambangkan dengan abu.
Terdapat 4 doa yang menyatakan abu sebagai simbol:
1. Untuk memberikan bantuan rohani bagi mereka yang memohon pengampunan dosa
2. Untuk menjamin pengampunan dosa bagi mereka yang sudah menerima abu
3. Untuk memberikan kita semangat pertobatan
4. Untuk memberikan kita rahmat dan kekuatan untuk menjalankan pertobatan
Setelah imam memberkati abu dengan air suci dan mendupainya, imam menandai dahi atau bagian atas dahinya dengan abu, lalu ia melakukannya kepada umat yang hadir. Kepala adalah pusat kesombongan, oleh karena itu, imam membentuk salib dengan abu pada dahi untuk mengingatkan kita akan harapan seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian 3:19:
“sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Setelah kita meninggalkan gereja, kita membiarkan abu di dahi kita hingga akan hilang dengan sendirinya. Abu merupakan saksi atas hal-hal yang kurang dihiraukan oleh umat, yaitu realita akan kematian, pertobatan atas dosa, dan pengharapan akan kebangkitan Allah kita, Yesus Kristus.
Sebagai keterangan tambahan, bahwa mereka yang bukan katolik boleh menerima abu tersebut. Jika secara kebetulan teman yang bukan katolik menemanimu menghadiri Misa pada saat perayaan ini, dia boleh “ditandai” dengan abu.
Namun yang paling penting bahwa Rabu Abu adalah hari untuk berpantang dan berpuasa, hari untuk mengingat akan kebenaran akan kehidupan kita. Di hari ini, renungkanlah kenyataan dalam hidupmu – apa arti kehidupan dan bagaimana menghindari kematian kekal dengan percaya, bertobat, dan menaati Allah Bapa.
Sumber:
https://www.fisheaters.com/customslent2.html
•Pax Vobis•
Facebook: Katolik Angelus Domini | Instagram: @katolikangelusdomini



Comments